Mamalia laut langka di Pantai Mali, Kabupaten Alor

Pantai Mali yang terletak di Kelurahan Kabola merupakan salah satu destinasi wisata pantai yang sering dikunjungi oleh wisatawan lokal ataupun luar di akhir pekan.Tidak hanya menikmati landscapedari teluk Benlelang, pengunjung pun umumnya berenang sekitar tepi pantai Mali. Namun siapa disangka ternyata diperairan ini juga telah ditemukan salah satu mamalia laut yang tergolong langka di dunia yaitu Dugong, atau masyarakat lokal sering menyebutnya Duyung.

Melakukan Pencarian

Berdasarkan informasi yang kami himpun dari masyarakat di perairan Mali, sekitar Pulau Sikka tersebut sering dijumpai 3 ekor Dugong di perairan Mali, hal ini juga diperkuat infomasi dari bapak Onesimus Laa yang juga sebagai ketua Forum Ikan Kabola di kelurahan Kabola. Pembuktian keberadaan Dugong tersebut semakin kuat ketika WWF bersama-sama dengan DKP dan Tim KKPD Kabupaten Alor pada tanggal 30 April 2011 berhasil mengambil gambar seekor Dugong remaja dengan panjang 1,5 meter di perairan tersebut. Hal ini merupakan penemuan yang sangat penting bagi kabupaten Alor dalam pengelolaan wilayah laut kedepannya terutama di kelurahan Kabola demi menjaga mamalia laut langka tersebut.

Ini dia…

Dugong atau Duyung dengan nama ilmiah Dugong dugon, berasal dari family Dugongidae. Hanya ada 1 spesies dalam famili ini. Dugong masih berkerabat dekat dengan Manatee. Kedua mamalia ini bahkan berkerabat dekat juga dengan gajah. Panjang tubuh dugong dapat mencapai 2,4 – 3,0 meter dengan berat tubuh berkisar 230 – 908 kilogram (Skalalis, 2007).

Dugong memiliki persebaran yang luas meliputi 37 negara, mulai dari pantai Afrika Timur hingga Vanuatu, namun jika dibandingkan dengan jumlahnya dialam Dugong mengalami masalah serius sehingga mereka digolongkan rentan menuju kepunahan oleh The World Conservation Union (IUCN). Menurut, Perrin, et al (1996) diduga Dugong sudah punah diperairan Kalimantan.
Berdasarkan data tahun 1994, populasi Dugong di Indonesia diperkirakan sekitar 1.000 ekor saja, yang tersebar disepanjang hamparan lamun di Indonesia, yaitu antara lain (Suwelo & Ginting (pers comm. 2000)):

  1. Sumatera ( Riau, Bangka dan Kepulauan Belitung)
  2. Jawa ( Taman Nasional Ujung Kulon, pantai Cilegon, Pantai Labuhan, Cilacap bagian selatan, Segara Anakan, dan Blambangan(Banyuwangi) bagian tenggara)
  3. Kalimantan ( Teluk Balikpapan, Kotawaringin, Kepulauan Karimata, Teluk Kumai, Kepulauan Derawan)
  4. Sulawesi ( Sulawesi Utara- Arakan Wawontulap, Kepulauan Bunaken, Sulawesi tengah-kepulauan Togian, Wakatobi dan Taman Nasional Takabonerate)
  5. Bali (Bali Selatan ; pantai Uluwatu and Padang-padang)
  6. Nusa Tenggara Timur (NTT) (Sikka, Semau, Sumba, Lembata and Kepulauan Flores, Teluk Kupang, dan Taman nasional Pulau Komodo)
  7. Maluku (Kepulauan Aru termasuk Aru Tenggara Marine reserve, Kepulauan Lease (Haruku, Saparua, Nusa Laut, Seram, and Halmahera bagian selatan (Syamsudin pers comm. 2001)
  8. Papua Barat (Kepulauan Biak dan Padaido, Sorong, pesisir Fakfak, Taman nasional Teluk Cendrawasih dan Taman nasional Wasur)

Tingkat reproduksi Dugong sangat rendah, populasi alamiah dugong hanya bertambah 5% pertahunnya. Hal ini dikarenakan umumnya Dugong hanya melahirkan 1 ekor anak saja setiap 9-10 tahun (Skalalis, 2007). Ditambah lagi ketika ketersediaan makanan Dugong kurang, Dugong akan menunda musim kawin. Dugong betina tertua yang ditemukan diperairan Indonesia diperkirakan berumur 73 tahun.

Dugong memiliki habitat di daerah padang lamun, terutama didaerah yang terlindungi seperti di teluk, daerah bakau yang luas dan dangkal, daerah pantai yang teduh. Anderson (1981), menyebutkan Dugong akan ke perairan dangkal seperti gosong (pulau pasir) dan Estuarin untuk melahirkan, hal ini diduga sebagai strategi untuk meminimalisir ancaman dari hiu sebagai predator dugong. Kriteria habitat ini serupa dengan perairan Pantai Mali, sehingga mendukung perkembangbiakan Dugong yang berada di pantai ini. Lamun merupakan makanan bagi Dugong oleh karena itu hewan ini tergolong dalam jenis pemakan tumbuhan (Herbivore), terutama pada jenis lamun dengan genus Halophila dan Halodule. Namun tidak menjadi kemungkinan Dugong memakan segala jenis lamun. Dugong mempunyai kebiasaan makan yang rakus, setidaknya Dugong dewasa dapat menghabiskan 25 – 30 kg lamun basah setiap harinya (Azkab 1998).

Berdasarkan data WWF, 2009. Ditemukan 7 jenis lamun yang berada di perairan Kabupaten Alor, di pantai Mali dan Pantai Deere sendiri ditemukan sebanyak 4 jenis lamun. Namun disayangkan tutupan lamun diwilayah Pantai Mali tergolong rendah dibandingkan daerah lain di kabupaten Alor, yaitu sebesar 15%.

Ancaman bagi alam dan antropogenik (faktor manusia) turut meningkatkan angka kematian hewan pemalu ini. Predator alamia Dugong adalah Hiu, Paus pembunuh (Orcinus Orca) dan buaya. Sedangkan dari faktor manusia yaitu perburuan baik untuk kebutuhan adat, konsumsi hingga diperdagangkan, tidak sengaja tertangkap atau hasil sampingan (by catch) dari pengunaan jaring, terluka dikarenakan baling-baling kapal, dan degradasi habitatnya yang berdampak pada pengurangan ketersediaan makanan, seperti penambangan pasir, reklamasi pantai, pembuatan bangunan pantai dan sedimentasi tinggi akibat penebangan hutan.

Sedikitnya jumlah Dugong yang diketahui dan ancaman yang terus mengkhawatirkan terhadap kelangsungan mamalia langka ini, sudah sepatutnya kita secara bersama-sama dapat menjaga mamalia laut yang langka ini sebagai aset pesona kabupaten Alor. Adapun langkah-langkah untuk mengurangi ancaman terhadap Dugong, antara lain :

  1. Tidak melakukan penangkapan terhadap Dugong, Dugong merupakan salah satu jenis biota laut yang dilindungi oleh undang-undang, yaitu tertuang pada Peraturan Pemerintah RI No. 7 tahun 1999. Secara tegas pemerintah melarang segala bentuk apapun dalam pemanfaatan Dugong demi keberlangsungan hidup hewan langka ini.
  2. Melarang adanya aktivitas penangkapan ikan yang merusak. Tidak hanya merusak terumbu karang sebagai rumah ikan, penggunaan bom ikan dapat memicu Dugong menjadi stress dikarenakan suara yang bising, dan penggunaan racun ikan (potasium sianida) dapat mengancam kehidupan lamun sebagai satu-satunya sumber makanan Dugong.
  3. Tidak menggunakan kapal bermotor diwilayah jelajah Dugong. Dugong merupakan hewan pemalu dan sangat terganggu dengan suara yang berisik, Hal tersebut dapat mengakibatkan stress bagi Dugong. Terutama pada motor laut, sangat disarankan kapal motor tidak melintas diwilayah renang Dugong disekitar pantai Mali.
  4. Melepaskan Dugong yang tidak sengaja tertangkap sesegera mungkin. Apabila nelayan secara tidak sengaja mendapatkan Dugong pada jaring yang ditebar atau dengan alat tangkap lainnya, sangat diharapkan untuk secepat mungkin melepaskan Dugong yang tertangkap. Selain Dugong mudah stress dikarenakan panik, hewan laut ini perlu segera mengambil nafas, dikarenakan organ pernafasannya menggunakan paru-paru seperti hewan darat lainnya
  5. Tidak melakukan penambangan pasir dan membuat bangunan di sepanjang pantai yang dapat menyebabkan degradasi pantai.
    Pengambilan pasir dan adanya bangunan pantai akan menyebabkan sedimentasi pada lamun sehingga berdampak pada berkurangnya persentase penutupan lamun diwilayah tersebut. Hal tersebut secara langsung dapat mengancam kehidupan lamun sebagai makanan Dugong
  6. Mendorong peran masyarakat dalam Menjaga tempat hidup Dugong. Melalui peran serta masyarakat di kecamatan Kabola, terutama pada Pemerintahan kelurahan Kabola dan masyarakat nelayan yang tergabung dalam Forum Ikan Kabola secara bersama-sama untuk turut menjaga potensi laut yang ada diperairan Mali dari aktivitas yang mengancam Dugong.
  7. Mendukung pengelolaan laut melalui Kawasan Konservasi Laut Daerah (KKLD) Kabupaten Alor.
    Melalui KKLD kabupaten Alor seluas 400.083 Km2 yang juga meliputi perairan Kelurahan Kabola, diharapkan dapat mengelola sumberdaya laut beserta biota laut didalamnya terus lestari dengan tetap mengutamakan perekonomian masyarakat pesisir dan pembangunan Kabupaten Alor. Oleh karena itu dukungan masyarakat mengenai pengelolaan wilayah laut melalui KKLD perlu didukung sepenuhnya.

Kesadaran masyarakat dalam menjaga hewan laut langka seperti Dugong ini sangat diharapkan, selama ini belum ada dokumentasi yang menyatakan bahwa Dugong ditemukan di Kabupaten Alor, melalui bukti nyata ini, tidak hanya paus, lumba-lumba saja yang menjadi icon bagi kabupaten Alor, namun Dugong dengan bangga bisa juga dijadikan icon bagi kabupaten ini (YG).

Referensi :

  • Marsh, HELENE. 2002.Dugong Status Report and Action Plans for Countries and Territories.UNEP
  • Azkab, M.H. 1998. Duyung sebagai pemakan lamun. Oseana Volume XXIII, Nomor 3 & 4, 1998: 35 – 39. P3O-LIPI, Jakarta.
  • Skalalis, Diana, 2007. Karya Tulis : Model Konservasi Dugong (Dugong dugon Muller). Universitas Padjajaran.
  • WWF, 2009. Survei Ekologi Kabupaten Alor. Laporan Kegiatan. Yayasan WWF Indonesia, Solor-Alor Project. Lembata, NTT.

Sumber disini (Oleh Dwi Ariyogagautama)

Comments
One Response to “Mamalia laut langka di Pantai Mali, Kabupaten Alor”
Trackbacks
Check out what others are saying...
  1. […] BeritaWWF Indonesia – Coral Triangle Day: Melindungi Lautan yang Menghubungkan Kita SemuaMamalia laut langka di Pantai Mali, Kabupaten Alor body.custom-background { background-image: […]



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: